-->
logo

21 Jun 2018

Mistis, Kapal Tenggelam di Danau Toba Dikaitkan Penangkapan Ikan Mas Jumbo

Mistis, Kapal Tenggelam di Danau Toba Dikaitkan Penangkapan Ikan Mas Jumbo


posmetroinfo - Peristiwa tenggelamnya kapal motor (KM) Sinar Bangun di Danau Toba pada Senin, 18 Juni 2018 sekitar pukul 17.15 WIB dikaitkan dengan cerita berbau mistis.

Tragedi ini menyebabkan ratusan orang tenggelam. Hingga hari ini, Kamis (21/6) korban hilang sebanyak 185 orang. Sedangkan korban selamat 21 orang dan korban meninggal dunia 3 orang.

Sementara bangkai kapal tenggelam belum ditemukan. Padahal, tim gabungan telah mengerahkan teknologi canggih untuk mencari bangkai kapal. Namun hasilnya nihil.

Tragedi tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba sontak dikaitkan dengan penangkapan ikan mas berukuran jumbo, sehari sebelum kapal tenggalam.

Budayawan muda Batak, Rismon Raja Mangatur Sirait mengatakan, ikan mas jumbo itu ditangkap warga di Danau Toba pada tanggal 17 Juni 2018 pukul 16:30.

“Ikan mas seberat 14 Kg didapat pemancing di Desa Paropo Tao Silalahi. Ikan Mas paling besar dan saya juga yakin ini paling besar didapat di Danau Toba dalam kurun waktu 20 Tahun terakhir,” ucap Rismon Raja Mangatur Sirait di akun Facebooknya.

Menurut Rismon, bicara hal mistis, percaya atau tidak percaya semua kembali ke pribadi masing-masing.

“Menurut cerita di sana para pemancing tidak mengindahkan larangan dan saran orang tua agar ikan Mas ini dilepas kembali ke Danau Toba,” tambahnya.

Namun dengan bangganya para pemancing tidak mengindahkan saran orang tua di sana dan langsung membawa ikan Mas itu ke rumahnya untuk dimasak dan dimakan.

Tanggal 18 Juni pukul 16:30 wib angin puting beliung di atas Danau Toba tepat di Tao Silalahi Paropo, hingga membuat ombak besar yang notabene banyak mengakui yang sudah lama tinggal dipinggiran Danau Toba belum pernah melihat ombak setinggi 3-4 meter dan ketebalan ombak 2 meter.

Tanggal 18 Juni 2018 pukul 16:35 seluruh kawasan Danau Toba diterpa angin kencang hingga ke darat. Angin kencang dan ombak besar dari Tao Silalahi Paropo ke jalur penyeberangan Simanindo ke Tigaras berjarak kurang lebih 15 km.

“Cerita dari orang yang pernah lewat naik kapal di kawasan luas Danau Toba Tao Silalahi makanya di katakan Silalahi Nabolak(seekor elang saja tak sanggup melewatinya), agak jarang dilintasi karena bisa tiba-tiba ada ombak besar dan angin kencang,” katanya.

Dikatakan Rismon, tingkat besar ombak di seluruh Danau Toba tidak sama karena pengaruh luas dan zona. Zona lintasan kapal KM Sinar Bangun yang kecelakaan di Danau Toba 18 Juni 2018 tepatnya di tengah Danau lintasan Simanindo ke Tigaras adalah zona berbahaya dilintasi bila besar ombak tidak seperti lazimnya.

“Ini hanya resensi saja mauliate. Salam peduli kebersihan Danau Toba. Salam menjaga kearifan lokal di Danau Toba,” pungkas Rismon. [psid]

Loading...
under construction
loading...