Oleh: Eka Gumilar
Pilkada baru saja lewat, banyak hasil pilkada yg diluar dugaan. Bahkan sejumlah lembaga survei pun meleset jauh dari yang mereka perkirakan.
Sejauh ini pertarungan Pilkada, baik di tingkat Kabupaten /Kota ataupun Provinsi selalu lebih mengandalkan strategi politik. Menghitung partai, perolehan tahun lalu, dan kekuatan finansial. Ada yang mengabaikan bahwa sebenarnya justru ini adalah pertarungan marketing strategic.
Ada teori tentang AIDA MY DARLING.... sangat bisa diaplikasikan di partai. Bagaimana menciptakan Attention, yaitu dengan membuat perhatian rakyat pada partai kita, lalu menaikan menjadi Interest yaitu menimbulkan ketertarikan, Desire artinya meningkatkannya menjadi ingin bergabung /mendukung dan akhirnya Action.. artinya rakyat memilih /mendukung kita.
Ada tahapan-tahapan yang membuat rakyat sampai pada kesimpulan memilih atau mendukung partai /calon kita.
Lalu MY DARLING yang dimaksud artinya saDAR LINGkungan, dengan memanfaatkan setiap simpul pengaruh yang ada.
Dan bagaimana kita me-maintain dukungan rakyat dengan seluruh tingkatan kepengurusan? Dengan melakukan '3P' kepada masyarakat dan kader, yaitu: 'Perhatian, Pelatihan, dan Penghargaan'.
Perang strategi di belakang Meja saja sudah sangat ketinggalan zaman Now.
Marketing strategi di Pilkada atau Pemilu sudah harus melek dalam segala hal, utamanya kemampuan menganalisa kandidat secara objektif dan independen, pengemasan issue, media promo, dll... Utamanya di zaman sekarang menguasai perang udara dengan jaringan sosial media, juga menguasai darat dengan jaringan Simpul ketokohan di lapangan. Kuasai lokomotif, maka gerbong ikut.
Itu sepele terlihatnya, tapi faktanya politikus yang berpikir jaman old, lebih mengandalkan visi misi dan uang, lalu baliho saja bertebaran. Tanpa mempersiapkan marketing plan-nya dengan baik. Mereka mengandalkan para pekerja intelektual yang justru bukan ahli marketing, yang memacu optimisme mereka melalui survei-survei yang akhirnya banyak jauh dari perkiraan.
Dalam memilih kandidat pun banyak partai yang asal jadi, atau sekedar transaksional?
Sebut saja,
5 % rakyat yang TAU politik dan BERPOLITIK,
20% Rakyat yang TAU politik tapi TIDAK BERPOLITIK
terakhir,
70% rakyat TIDAK tau politik dan TIDAK BERPOLITIK
Kebanyakan para elite partai sibuk mengurus pasar yang diatas, lupa memikirkan market yang belum paham dan belum tau situasi politik yang ada sehingga kurang melakukan pencerahan dan strategi merangkul yang efektif. Tidak heran, kalau di pilkada, banyak kandidat yang jelas tersandung masalah korupsi tetap tampil sebagai pemenang.
Ada juga partai yang pengurus DPP-nya terlalu banyak intervensi, sehingga kurang mengakomodir masukan dari pengurus di daerah, sehingga salah dalam memilih kandidat yang bisa diterima di wilayah tersebut. Apalagi kalau orientasinya pragmatis semata. Pilkada jadi sebuah ajang perlombaan untung-untungan tanpa design yang baik.
Harus kita akui dengan jujur... Banyak elite partai yang lebih mendengar pembisik, daripada mau secara sungguh-sungguh mempelajari apa yang menjadi harapan rakyat di bawah. Inilah yang membuat banyak partai menuai kekecewaan dengan hasil Pilkada saat ini.
Padahal bisa jadi, ketokohan Ketua Umum-nya sangat didukung mayoritas rakyat, tapi karena para pengurus intinya kurang memaksimalkan peluang, kurang mendengar masukan dari daerah, maka hasil yang terjadi bisa jauh dari harapan.
Beberapa elite kadang memiliki kesombongan halus, yang sulit menerima masukan dari orang lain. Itulah sumber kehancuran. Karena mereka sudah kurang peka terhadap masukan.
Partai yang ingin maju secara modern harus melakukan restrukturisasi besar besaran, dan mengganti pengurus yang dianggap menjadi penghalang bagi besarnya partai tersebut. Tidak boleh ada politik balas budi yang menyebabkan partai tersandera dikendalikan oleh orang yang tidak bisa maksimal membesarkan partai.
Mau 2019 ganti Presiden? REFORMASI PARTAI SEGERA! [*]
Salam
Eka Gumilar
Ketua Barisan Putra Putri Indonesia.
Konsultan Marketing
Loading...
