posmetroinfo - Sudah 72 tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia kokoh berdiri. Namun, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan, masyarakat harus mempunyai pertanyaan kritis mengenai keutuhan negara ini.
"Kita tidak boleh terlena dengan negara NKRI yang masih tetap utuh berdiri. Pertanyaan kritis, kita balik, apakah negara ini memiliki potensi pecah? Kalau pecah apa yang membuat pecah agar kita bisa jaga (keutuhannya)," ujarnya saat berbicara di acara silaturahmi Da'i Kamtibnas di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta, Selasa (17/7).
Ya, setiap warga negara terutama aktor intelektual menurutnya harus membuat pertanyaan kritis itu. Bukan tanpa alasan. Sebab kata Tito, negara sebesar Uni Soviet saja yang luas wilayahnya lebih besar dari Indonesia, kuat dalam hal ekonomi, militer, bahkan memiliki nuklir itu pun bisa pecah. Itu pun bisa saja terjadi kepada Indonesia.
"Negara ini memiliki potensi untuk pecah," tegasnya.
Adapun yang bisa memecah belah Indonesia, katanya, berasal dari faktor internal maupun eksternal. Khusus internal, adalah Indonesia belum mampu membangun kelas menengah, yang berarti kesejahteraan.
"Bukan masalah agama, suku, ras. No! Masalah terpenting bagi negara ini yang bisa membuat negara ini pecah adalah kesejahteraan," jelas Tito.
Menurut mantan Kapolda Metro Jaya itu, selama 72 tahun Indonesia merdeka, mulai dari pemerintahan Soekarno hingga Jokowi, belum mampu menciptakan kelas menengah yang besar.
Dia berpendapat, negara yang kuat adalah negara yang memiliki kelas menengah yang besar. Yaitu negara yang cukup secara ekonomi, sumber daya manusianya terdidik, terlatih, dan memiliki daya nalar dan rasionalitas.
"Mereka tidak menjadi beban negara. Bentuknya seperti layang-layang. Sedikit sekali yang high class, sedikit sekali yang low class, tapi besar sekali middle class. Itulah negara yang kuat," pungkasnya. [jawapos]
Loading...
