posmetroinfo - Kontestasi pemilihan presiden (Pilpres) 2019 dinilai berbagai kalangan semakin menarik. Tak hanya menyajikan laga sosok lama antara petahana Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto, namun keterlibatan para jenderal di kedua belah pihak tentunya akan saling menunjukkan strateginya dalam memenangkan capresnya.
Tampak ada dua kubu para pensiunan jenderal. Di kubu Prabowo Subianto ada nama mantan Panglima TNI Jenderal (purn) Djoko Santoso yang menjabat sebagai anggota Dewan Pembina. Juga ada Yunus Yosfiah pensiunan Jenderal bintang tiga.
Gerindra punya organisasi sayap khusus untuk para purnawirawan TNI, yaitu Purnawirawan Pejuang Indonesia Raya (PPIR) yang semakin membuat partai berlambang Garuda ini semakin kental dengan kultur militer.
Sementara di kubu lawannya, Presiden Jokowi menarik Jenderal (purn) Moeldoko masuk ke dalam lingkaran Istana. Jokowi juga memilih purnawirawan Jenderal bintang empat masuk ke dalam lingkungan istana. Dia adalah Jenderal (purn) Agum Gumelar yang dilantik menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) menggantikan KH Hasyim Muzadi yang meninggal dunia.
Sederet purnawirawan telah terlebih dahulu ada di jajaran pemerintahan. Mereka adalah Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Menko Polhukam Wiranto, Anggota Wantimpres Subagyo Hadi Siswoyo dan Yusuf Kartanegara.
Ada pula Try Sutrisno yang saat ini menempati posisi anggota dewan pengarah Unit Kerja Pancasila. Ada pula kalangan pensiunan polisi, seperti Kepala BIN Budi Gunawan, Anggota Wantimpres Sidarto Danusubroto dan Staf Khusus Presiden Gories Mere.
Ditariknya pensiunan militer ke lingkungan Istana disinyalir sebagai strategi Jokowi menghadapi Pilpres 2019. Begitu juga dengan Prabowo.
Bagi aktivis Ucok Sky, sebetulnya pilpres 2019 bukan pertarungan sipil. tapi pertarungan militer yang adu strategis dari para jenderal di dua kubu.
Para pengamat politik menyebut, ditariknya para mantan jenderal itu tentu saja untuk merubah image Jokowi bahwa dia juga dekat dengan tentara. Jokowi menunjukkan ke publik bahwa dia punya dukungan militer. Apalagi, sang lawan pada Pilpres nanti, Prabowo sangat lekat dengan kultur militer.
Namun Koordinator staf khusus Presiden, Teten Masduki menepis anggapan masuknya pensiunan jenderal ke Istana untuk kepentingan 2019. Teten menegaskan, langkah Jokowi ini guna mempercepat pelaksanaan program pemerintah.
Publik tentu tidak ambil pusing dengan dilibatkannya pensiunan jenderal oleh dua capres, Jokowi dan Prabowo. Bagi rakyat yang terpenting adalah perut mereka kenyang, mendapatkan pekerjaan, hidup sejahtera, harga pangan murah, dan lainnya.
Dan yang terpenting adalah para tokoh nasional seperti SBY, Megawati, Jokowi, Amien Rais, Rizal Ramli, dan pensiunan jenderal, untuk tidak mengedepankan kepentingan golongan. Karena kasihan rakyat dibawah yang terimbas dari perseteruan para tokoh nasional tersebut yang akhirnya saling gontok-gontokan karena perbedaan yang dilakukan para tokoh nasional yang di idolakannya
Kita tentu menyayangkan jika para tokoh nasional tersebut saling serang lewat statement sehingga membuat keruh atau panas situasi politik di Indonesia. Padahal mereka mangaku untuk kemajuan Indonesia.
Harapan kita elit politik yang akan bertarung di Pilpres 2019 untuk memberikan contoh ke masyarakat dengan berpolitik santun. Hati boleh panas tapi kepala meski tetap dingin.
Mereka harus bisa berdemokrasi ala Indonesia yakni dengan memaknai toleransi bukan sebatas soal agama tapi juga soal sikap politik atau pilihan politik. Karena jiwa toleransi atau gotong royong itu sudah mendarah daging di masyarakat Indonesia. [htc]
Loading...
