-->
logo

23 Jul 2018

"JK Menelan Ludahnya Sendiri"

"JK Menelan Ludahnya Sendiri"


posmetroinfo - Pengamat politik dari Point Indonesia (PI) Karel Susetyo mengatakan, ambisi politik yang membuat JK ingin maju kembali sebagai wapres untuk ketiga kalinya di Pilpres 2019. Padahal sebagai politisi yang sudah berumur, tentunya JK harus tampil sebagai negarawan yang bijak. Sehingga bisa memberikan contoh yang baik untuk politisi yang lain.

"Ambisi politik (yang membuat JK ingin tampil lagi sebagai wapres ketiga kalinya," kata Karel kepada Harian Terbit, Minggu (22/7/2018).

Karel menilai, dengan ingin maju kembali sebagai Wapres maka JK seperti menelan ludahnya sendiri. Menelan ludah sendiri memang ciri khas seorang politisi yang hari ini bicara A besok atau lusa bisa saja mengatakan B. Padahal sejak beberapa tahun lalu JK telah membuat pernyataan bahwa 2019 ia akan lebih konsen kepada keluarga. Terutama ingin lebih dekat dengan cucu-cucunya.

"Lagipula JK juga belum tentu dipilih kembali oleh Jokowi jika memang ingin maju sebagai wapres kembali," paparnya.

Sudah Sepuh

Karel menuturkan, menginggat usia JK sudah sepuh dan sudah banyak makan asam garam di pemerintahan dan politik, sebaiknya JK mundur teratur saja sebagai politisi.  Akan lebih terhormat apabila JK mundur dari pertarungan ketimbang memaksakan diri dan kalah dalam Pilpres 2019. Karena akan lebih sakit jika tetap maju tapi ternyata tidak direspon oleh rakyat.

Sementara tu, pengamat politik dari Universitas Bunda Mulia (UBM) Silvanus Alvin mengatakan, mengingat usianya sudah sepuh maka sebaiknya JK menjadi negarawan saja, jangan maju menjadi Wapres untuk ketiga kalinya. Namun, proses judicial review terhadap syarat menjadi presiden dan wapres dalam Pasal 169 huruf n Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu di Mahkamah Konstitusi (MK) juga harus dihargai.

"Maksudnya, biarkan proses JR (judicial review) berjalan dan tunggu hasil bagaimana para Hakim MK memutus. Bila dikabulkan, maka Pak JK tidak melanggar UU dan boleh menjadi wapres lagi, terlepas apakah banyak yang menentang atau tidak," ujar Silvanus.

Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno mengatakan semua pihak harus menghormati sikap Jusuf Kalla (JK) yang sudah menyampaikan tidak ingin kembali menjadi cawapres, karena kalau dipaksakan akan menjadi preseden buruk kedepannya.

"Seharusnya kita buka rekaman pernyataan JK yang mengatakan ingin pensiun di dunia politik dan menyerahkan trah kepemimpinan ke depan kepada kaum muda," kata Adi di Jakarta, Minggu.

Menurut dia, pernyataan JK itu seharusnya menjadi petunjuk semua pihak sehingga tidak perlu dibujuk lagi jadi cawapres dengan mengajukan uji materi. [htc]

Loading...
under construction
loading...